Senin, 10 Februari 2014

Perbedaan Pembelajaran IPS

Perbedaan pembelajaran IPS:

1.    Sebagai Transmisi Kewarganegaran
·         Merupakan suatu proses pewarisan dalam suatu masyarakat tertentu
·         Bertujuan untuk membentuk warga negara sehingga dapat memenuhi kewajibannya, taat pada hukum, dan bertanggung jawab dalam membela negara

2.    Sebagai Ilmu Sosial
·         Didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik dapat berfkir secara kritis, mampu mengobservasi dan meneliti
·         Bertujuan untuk menciptakan warga negara yang mampu belajar dan berpikir secara baik, seperti yang dilakukan oleh ahli ilmu sosial

3.    Sebagai Inkuiri Relektif
·         Merupakan proses penelitian, keingintahuan, analisis sampai dengan penarikan simpulan tentang hal-hal yang diperiksa atau diteliti

·         Bertujuan membia peserta didik dalam berpikir kritis dan menjadi orang yang secara bebas dapat memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya

Rabu, 09 Oktober 2013

Satria Sayang Gue, Gue Sayang Satria (cerpen series 4)

Pagi itu aktivitas gue seperti biasa. Bangun tidur, mandi, sarapan, dan berangkat sekolah bareng kakak gue—Satria. Bahkan gue masih ingat ketika merengut karena nyokab kasih uang saku lebih banyak ke Satria daripada gue, dengan alasan Satria ada pelajaran tambahan. Gue ingat ketika bokab menengahi adegan bertengkar gue sama nyokab dengan nambahin uang saku gue sebelum berangkat ke sekolah bareng kakak gue. 

Gue ingat semua. Ingat ketika tubuh gue melayang, kemudian rasa sakit, dan setelah itu yang gue lihat Satria dengan wajah sedihnya meluk gue. Nyaman dan setelah itu gue nggak ingat apa-apa.

Rasanya gue tertidur nyaman dalam pelukan Satria.


Satria Sayang Gue, Gue Sayang Satria


Gue nggak tahu berapa jam gue tidur sampai-sampai mereka melototin gue. Gue ngga tahu harus masang ekspresi apa ketika nyokab gue mendadak meluk tubuh gue yang mendadak juga merasa sakit. Gue masang tampang bloon ketika Satria sama bokab gue masang wajah bangga ke arah gue. Heran tentu saja. Emangnya gue baru menang lomba apa sih sampai mereka begitu bangga sama gue.

“Syukurlah, kamu sadar juga, Elin.” Bokab gue ngelus-ngelus rambut gue. Gue pengen bangun dari tidur, tapi nggak bisa ketika merasakan sakit kepala sama tubuh gue. Gue kenapa???

.

.

Akhirnya gue tahu semua jawabannya ketika orang tua gue pulang ke rumah, dan Satria jadi sasaran pertanyaan gue ini kenapa. Gue, yang mendapati diri bangun di salah satu ranjang rumah sakit. Padahal gue yakin gue nggak kenapa-kenapa, karena sebelum gue tidur, Satria ada di samping gue sehingga entah kenapa gue nggak merasa takut.

“Gilaaaa.... gue hebat juga bisa tidur 3 hari berturut-turut,” seru gue sambil menyomot jeruk yang dikupasin Satria. Gue kelaparan dan ogah makan dari jatah rumah sakit. Gue pengen masakan nyokab, mangkanya orang tua gue belain ninggalin gue di rumah sakit bareng Satria.

Satria mendengus di samping gue tanpa ngalihin fokusnya ngupasin jeruk buat gue. “Lo buat gue takut setengah mati, bodoh.” Satria kembali angkat suara. Membuat gue nggak enak sendiri dengan keadaan ini.

Gue merasa bersalah meskipun enggan mengakui, apalagi melihat muka nggak enak Satria yan berusaha ia tutupi. Mungkin Satria merasa bersalah dengan kecelakaan yang menimpa kami. Dia selamat meskipun dengan luka yang lumayan sakit, dan gue yang hampir-hampir kehilangan nyawa yang secara nggak langsung karena Satria. Bukan karena Satria, tapi karena bus yang menerobos lampu merah sehingga membuat Satria membanting stir berusaha menyelamatkan kami. Gue sadar semua itu, mangkanya gue berusaha menampilkan muka ceria gue agar Satria nggak merasa bersalah lagi.

“Bokab marahin lo, Sat?” Gue kembali memecah keheningan yang membosankan ini. 

Sekelebat ingatan jaman kecil gue dimana bokab marahin Satria karena lebih milih main bola sama teman-temannya daripada nganterin gue pulang ke rumah. Alhasil, gue yang saat itu masih bocah nggak tahu jalan pulang, dan berakhir nyasar entah kemana. Gue juga ingat ketika gue menangis ketakutan, Satria datang cari gue, dia meluk gue erat sama seperti yang gue alami saat itu. Gue baru sadar Satria selalu ada buat gue. Entah jika nggak ada Satria gue gimana jadinya. 

Gue tahu, Satria sayang gue, gue juga sayang sama Satria.

“Enggak... bokap nggak marahin gue,” Satria nyuapin jeruk ke mulut gue, “tapi gue merasa bersalah karena buat lo jadi gini.”

Nah, kan... gue jadi merasa nggak enak gini.

“Ah, itu bukan salah lo kok, sopir busnya aja yang nggak tahu lalu lintas. Dan karena kecelakaan gue jadi bebas dari ujian remedial.” Gue nyengir lebar, “Sial deh, padahal nilai gue udah sama KBM tapi tetep aja gue disuruh remedial. Emang deh, Pak Rudi selalu bikin masalah sama gue,” cerocos gue.

Satria cuma bisa geleng-geleng lihat tingkah gue. Tapi gue seneng, dengan tingkah konyol gue, Satria nggak mengungkit rasa bersalahnya lagi. Tapi....

“Sat, jam tangan yang gue pake waktu itu mana?” tanya gue ingat jam yang baru gue beli dengan berbekal sisihan uang saku gue selama seminggu.

Satria natap gue lama. Mungkin berpikir jam tangan mana yang gue maksud.

“Itu, yang jam tangan putih seratus ribuan,” pancing gue.

“Oh yang itu...”

“Iye... mana?” Gue acungin tangan gue. Berharap cepet-cepet mendekap jam tangan yang lagi gue gandrungi itu.

“Gue buang ke tempat sampah. Hancur karena kecelakaan kemarin,” jawab Satria.

Gue shock.

Mewek.

Nangis.

Pengen nonjok Satria.

“Huweeee...... pokoknya harus diganti, nggak mau tahu harus diganti sama seperti ituuuuuu!!!!”

Gue teriak-teriak di depan muka Satria sampai-sampai orang luar nengok ke kamar inap gue. Tapi gue nggak peduli, pokoknya harus diganti. Gue nggak ikhlas jam tangan hasil kesabaran gue selama dua minggu hancur dalam sekali pakai. Satu minggu buat ngumpulin duitnya. Dan seminggu nunggu jam gue datang karena gue belinya di olshop.

Gueeeee nggaaaaaaak ikhlaaaaaaassssss..............

Gue ralat. Satria nggak sayang gue, dan gue nggak sayang sama Satria.


Senin, 26 Agustus 2013

Banjir TomatCeri 2011

Selamat siang sahabat blogger :)

Hari ini aku mau share link menuju komunitas fanfic yang didedikasikan untuk Banjir TomatCeri 2011 atau biasa disingkat BTC 2011.

Banjir TomatCeri?

Itu lho... Contest tahunan fans SasuSaku yang dilaksanakan tiap bulan Juli. Dari tanggal 1-31. Yang mana karya yang didediokasikan dipublish di situs Fanfiction.net dengan akun masing-masing.
Nah, ini dia komunitinya: SasuSaku Fanfiction BTC 2011

Cinta

Link story: CINTA
Disclaimer: Masashi Kishimoto


CINTA


Tangan itu terulur kembali. Menyerahkan beberapa lembar uang sebagi alat jual beli yang baru saja mereka lakukan.

Ia terus menatapnya. Entah kenapa ada sebersit perasaan ragu tentang dia. Dia begitu baik padanya, bahkan tak merasa keberatan ketika ia meminta untuk membayarkan makananya.

Namun kenyataannya sekarang ia bimbang. Apakah arti kedekatan mereka bagi pemuda itu?


Yamanaka Ino menatapnya penuh selidik, "Jadi kau dan Sasuke selama ini tak pacaran, Sakura?" Nada suara itu terlihat begitu heran.

Gadis identik warna merah muda itu mengangguk.

"Aku tak percaya semua ini. Kalian berdua selalu bersama-sama, menghabiskan akhir pekan bersama, bahkan Sasuke tak segan-segan membelikan apa yang kau minta." Yamanaka Ino menatap ke arahnya, "Atau jangan-jangan kau hanya memanfaatkannya, Saku?"

Gadis merah muda itu mendelik tak terima, "Aku tak seperti itu, Ino. Aku hanya... hanya..." Bahkan ia sendiri bingung dengan semua ini.


Uchiha Sasuke kini yang tengah bingung mendapati tindak tanduk gadis di depannya yang tengah berdiam diri. Bukan tipikal Haruno Sakura yang ia kenal.

"Hei." Ia menyentil kecil jidat gadis itu, namun hanya usapan kecil pada jidatnya sebagai tanggapan dari gadis itu sebelum kembali menikmati waktu diamnya.

Tak kehabisan akal, Sasuke merebut es krim yang mulai meleleh di tangan gadis itu, membuatnya berpaling ke arahnya dengan tatapan mendelik. Merebut kembali es krim miliknya.

Sasuke memposisikan duduknya. Menikmati sore yang sebentar lagi berkunjung.
 "Kau aneh hari ini, Sakura," katanya mengungkap apa yang sejak tadi dipikirkannya.

"Aa. Benarkah?" Gadis itu menatapnya innosen. Membuat pemuda di sampingnya menghembuskan napas pasrah.

"Hn."

Mereka diam kembali. Bahkan Sakura tak terlalu mengindahkan ketika kepala Sasuke bersandar pada pundaknya.

"Sasuke-kun?"

"Hn."

Sakura melirik sebentar kepala yang tengah bersandar di pundaknya, sebelum kembali menatap suasana di sekitar taman tempat mereka berada.

"Maaf ya, Sasuke-kun." Ia berucap sendu.

Pemuda Uchiha itu mengangkat kepalanya. Menyernyit heran akan sikap gadis di sampingnya.
"Mungkin karena sejak kecil kita selalu bersama, aku jadi tak merasa kalau selama ini ternyata aku seperti memanfaatkan, Sasuke-kun..."

"Apa maksumu, Sakura?" Nada suara pemuda itu sedikit meninggi. Seakan tak suka akan ucapan gadis merah muda itu.

Sakura tersenyum ke arahnya, "Maaf kalau selama ini aku memanfaatkan, Sasuke-kun." Sasuke diam, menanti gadis itu melanjutkan kalimatnya. "Memaksa untuk dibelikan ini itu oleh Sasuke-kun, meminta ditemenin padahal Sasuke-kun sedang sibuk. Padahal aku bukan apa-apa Sasuke-kun tapi aku begitu melunjak tanpa tahu malu." Kalimat itu berakhir dengan kepala merah muda itu menunduk seperti manahan tangis.

.

.

Ah, entah sadar atau tidak kini Sasuke juga tengah memikirkan hal itu. Kenapa ia begitu takluk dengan gadis Haruno itu. Bahkan dengan rela hati menguras isi kantongnya ketika gadis itu minta dibelikan sesuatu.
Meskipun ia tahu tindakannya bodoh, namun ia terasa terbayar ketika senyum itu merekah ke arahnya. Senyum itu seperti menghipnotisnya.

.

"Karena kau berkata seperti itu aku jadi kepikiran, bodoh." Tangan Sasuke terulur. Menarik kepala merah muda itu untuk bersandar ke tubuhnya.

"Maksud, Sasuke-kun?" Bola mata hijau itu mengerjab bingung.

"Kenapa aku bisa takluk oleh cewek manja sepertimu." Ia tersenyum tipis. Sangat tipis.

"..."

"Ternyata hanya satu kata sebagai alasannya, Sakura."

"..."

"Cinta. Mungkin karena aku mencintaimu sehingga mau saja kamu peralat."

Haruno Sakura cemberut. Mencubit tangan Sasuke yang tengah memeluknya.

"Hei, kau melukaiku, Sayang."

"Menyebalkan."


Tamat

Nyontek?

Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Nyontek?


Haruno Sakura lagi-lagi mendelik pada sosok yang tengah berpaling ke arahnya. Bibirnya menggerucu berusaha menutupi dari jangkauan mata hitam yang tak henti-hentinya meliriknya. Sebisanya ia harus menjaga miliknya untuk masa depan cemerlang nantinya. Namun percuma saja, lihatlah pemuda Uchiha itu tak henti-henti menatapnya. Membutnya risih atas sikap pemuda itu.

Hei, tak bisakah pemuda itu tak bersikap memalukan seperti ini, gerutunya penuh kekesalan.


Ia tetap fokus dalam duduknya. Mengerjakan apa yang tengah menjadi kewajibannya tanpa peduli pemuda di depannya. Lagi-lagi ia berkesip mendapati lirikan tajam dari mata kelam menghanyutkan itu. Lengkap cibiran sebal ia lontarkan padanya. Sial. Pemuda Uchiha bernama Sasuke itu seakan tak mengindahkan reaksinya. Tetap menikmati sajian yang tertangkap pandangannya. Kembali mengalihkan pandangan ke depan sembari terkekeh atas kemenangannya.

Kembali lagi, kepala berambut raven itu tertoleh ke arahnya. Ia reflek memegang masa depannya. Berusaha menghindari dari sorotan bola mata itu.

"Hei, jangan mencontek punyaku, Sasuke." Akhirnya ia berujar keras. Menggenggam erat kertas ujian yang begitu menentukan masa depannya nanti.

Sasuke mencibir pelan, mengembalikan pandangannya ke depan sebelum dipergoki oleh penjaga ujian. Siap menekuni kembali kertas ujian.

"Pelit," ujarnya kemudian.

Link Story: Nyontek?

Egois (Epilog)

Disclaimer: Masashi Kishimoto.
.

Epilog
.

Rumah bercet coklat dengan daun cendela yang belum terpasang tersebut terlihat mencolok di pinggiran hutan yang penuh dengan pepohonan. Sekilas terlihat burung gereja dengan usil hinggap di kusen kayu cendela yang hanya tertutup secarik kain, bahkan dengan seenaknya menghadiahkan sebuah kotoran di kusen cendela dengan cat yang belum sepenuhnya mengering. Di luar sana matahari mengintip dari celah-celah dedaunan untuk memberitahu siapapun yang berada dalam rumah kayu tersebut untuk segera memulai harinya.

Di sudut belakang rumah, dua manusia tersebut terlihat memulai pagi dengan sebuah kekacauan kecil. Berhadapan dengan sebuah tungku dengan kayu bakar yang tak kunjung terbakar api. Malah nyaris api enggan membakar sang kayu. Mungkin terlalu lelah mendengar celoteh geram dari perempuan yang berusaha menciptakan dirinya dari dua buah batu dalam genggaman tangannya.

"Arrghh... Kenapa sulit sih!" Melemparkan kedua batu tersebut dari tangannya, lagi-lagi ungkapan frustasi tersebut terucap dari bibir Haruno Sakura, membuat sosok lain yang tengah memperhatikan segala polah tingkahnya terkekeh geli.

"Apaaa?" Merasa ditertawakan perempuan yang baru saja resmi menyandang marga Uchiha tersebut melotot geram pada sang suami. Tak mendapati respon yang berarti ia menatap Uchiha Sasuke yang tengah terduduk malas di sisinya. "Sasuke-kun, bisakah kau menciptakan api dari jurus katon-mu?" Mendapati ekspresi bingung Sasuke yang mirip putra mereka yang tengah tertidur pulas Sakura tersenyum ke arah suaminya, "Setidaknya cepat lakukan, Sasuke-kun," pintanya lagi.

Beranjak dari duduknya Sasuke menepuk debu yang menempel pada pakaiannya sebelum berbalik arah memasuki rumah.

"Malas. Lakukan sendiri," ujarnya seenaknya.

.
.

Uchiha Sakura melotot lagi, lengkap dengan raut kesal atas ucapan Sasuke.
"Sasuke-kun, menyebalkaaaannnn..." Reflek kayu bakar di depannya terlempar dengan indahnya dari tangan Sakura.

Dengan sigap Uchiha Sasuke menghindari lemparan sang istri. Tersenyum mengejek ketika berhasil menghindarinya.

"Sasuke-kuuuunnnn!"

.

.

"Aaaauuu..."

Suami istri tersebut reflek mengalihkan pandangannya mendengar lolongan kesakitan di sekitar mereka. Di sana putra mereka, Uchiha Ren tengah mengaduh kesakitan mendapatkan hantaman kayu bakar pada perutnya. Naas, di saat pandangannya mengabur karena kantuk.

"Huwaaa... Putrakuuu..." Seruan kekhawatiran Sakura tersebut membuat Sasuke mengorek telinganya terganggu.
.

.

.

Uchiha Ren menatap sebal kedua orang tuanya setelah kejadian kayu bakar menghantam perutnya. Rasa nyut-nyutan tersebut masih terasa hingga sekarang meskipun sang ibu sudah mengeluarkan cakra penyembuh tepat pada perutnya yang memerah. Tak pernah terbayangkan untuknya mendapatkan lemparan kayu bakar di mana matanya belum terbuka sepenuhnya dari sang ibu tersayang, apalagi banyak yang mengetahui seberapa hebatnya kekuatan tangan ibunya.

Lain dengan ibunya yang terus-terusan menyuarakan permintaan maafnya, ayahnya malah duduk bertopang dagu memperhatikan ia dan sang ibu yang sesekali mengomeli ayahnya yang tak berperasaan.
"Kalau, Sasuke-kun mau membantuku tadi akibatnya Ren-kun tak akan kesakitan seperti ini," kata ibunya entah untuk keberapa kali.

"Hn."

Bahkan Ren sudah bosan mendengar kata ambigu yang dikeluarkan ayahnya menanggapi celoteh sang ibu.

"Bla bla bla."

"Bla bla bla bla."

"Bla bla bla blaaa."

Ren mendesah pasrah tak mau mendengarkan ayah ibunya yang bertingkah kekanakan di pagi yang indah ini. Menarik kursi yang di dudukinya ia beranjak pergi.

"Tak bisakah Ayah membungkam Ibu yang tak berhenti mengoceh. Berisik," ungkap Ren pada akhirnya.

"Apaaa?" Sakura mengerjab tak percaya ucapan yang dilontarkan anaknya. Menoleh ia ke arah suaminya
yang menyambutnya dengan sebuah seringai yang begitu ia hapal. Merinding, cepat-cepat Sakura mengikuti jejak sang anak pergi.

"Haaahhh... Padahal semalam mereka terlihat romantis, dan sekarang terlihat menyebalkan. Hn," bisik Ren sembari mengulas senyum tipis. Menyingkapkan selimut untuk memulai tidurnya kembali.

Tamat

Link story: Egois (epilog)

Egois chapter 1

Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
Egois
.
.
Haruno Ren. Semua penghuni Konoha mengetahui silsilah siapa dia sebenarnya. Bocah laki-laki berparas tampan yang terasingkan karena darah yang mengalir dalam tubuhnya. Buih yang dulu diciptakan oleh sang ayah menuai hasil dalam kehidupnya. Dicerca dan dimaki karena cabang keturunannya. Dia Haruno, namun nama Uchiha masih begitu kental mengusik ingatan para penduduk desa Konoha. Pemuda klan terakhir Uchiha yang telah berkhianat. Meskipun nama Uchiha Sasuke tak lagi terdengar, namun ingatan setiap kejahatan yang ia tertorehkan masih begitu lekat dalam ingatan penduduk desa. Kesan pertama yang buruk tetap saja menimbulkan kenangan yang buruk, meskipun perang dunia ninja telah berakhir 10 tahun lalu. Bagi mereka andil Uchiha Sasuke dalam kemenangan perang tersebut tak akan mampu menghapus segala kenyataan negatif yang sudah tertoreh lekat dalam setiap ingatan mereka.
.
.
Celoteh tawa samar itu terdengar begitu mendominasi kedai ramen di desa Konoha. Siang yang terik terusik dengan suara keributan yang diciptakan sang pahlawan desa, Uzumaki Naruto. Bibir yang semula tertutup rapat tersebut kembali terbuka bersamaan dengan bibir mangkuk ramen kelimanya yang mampu ia tandaskan hari ini. Kuah ramen terakhir kembali mengaliri ruang dalam kerongkongannya. Sang Uzumaki berdecak puas sebelum pandangannya terarah kembali pada bocah laki-laki bekisar umur 14 tahun, mantan murid didiknya.
"Ramen memang selalu indah di musin panas hari ini," ungkapnya senang sambil mengusap peluh di dahinya. Terkekeh pelan Naruto menatap penuh minat anak laki-laki yang sebelumnya teracuhkan, "Kau beneran tak maun nambah, Ren," tanyanya kemudian mendapati hanya satu mangkuk yang dihabiskan mantan anak didiknya.
Menggeleng pelan ia melihat tingkah mantan gurunya itu, "Sensei, masih saja terlihat rakus." Ren menyernyit tak suka, "Pantas saja ibu tak mau menjadi istri, Sensei," ujarnya lagi.
Tertohok. Uzumaki Naruto menatap horor pemuda tanggung tersebut. Pasalnya ucapan Ren kembali mengusik ingatan Naruto pasca lamaran beberapa minggu lalu yang sukses membuatnya murung berhari-hari. Entah untuk keberapa kali kalimat bermakna penolakan dari bibir cinta pertamanya tersebut masih saja membuat hari-harinya mendung.
Terkekeh, berusaha mengobati kenyataan pahit yang terlontar dari pernyataan Ren, Uzumaki Naruto mengajak rambut raven pemuda tanggung tersebut. Meletakkan uang mie ramen yang telah mereka makan Naruto beranjak dari duduknya, membuat Ren mengikutinya.
"Kau tahu, Ren, ibumu memang keras kepala." Naruto tersenyum ke arahnya, "Berkali-kali aku mencoba merobohkan keyakinannya, tapi kekecewaan hasilnya. Ya, seharusnya aku sudah tahu akan berakhir bagaimana, namun tetap saja tak bisa melunturkan niat untuk mencobanya lagi dan lagi. Hehehehe..." cengirnya lagi.
Haruno Ren terdiam sejenak. Bocah laki-laki yang baru saja naik tingkat Jounin tersebut hanya mengendikkan bahu cuek pada akhirnya. Peraduan langkah keduanya pun tak mampu membendung kensunyian di antara mereka.
.
.
"Uzumaki-san." Langkah mereka berhenti bersamaan dengan ninja Anbu yang muncul di depan Naruto. Turut menyernyit penasaran Ren mendapati raut yang ditampilkan mantan gurunya tersebut setelah mendapatkan bisikan dari sang Anbu. Bahkan ketika sorot mata merendahkan bertumpuan dengan bola mata hitamnya ia hanya mampu bergeming ketika sang Anbu tersebut menghilang dari pandangannya.
"Ren, sepertinya aku harus segera pamit, dan selamat atas kenaikan pangkatmu menjadi Jounin," kata Naruto sebelum melocat pergi dari sisi Ren. Dan kembali lagi ia berteman sepi menyusuri jalan menuju rumahnya. Berharap senyuman dari sang ibu mampu membut harinya kembali indah.
.
.
"Aku pulang."
Pintu itu terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang memasuki rumah kediamannya. Sepi ketika tak mendapati celoteh sang ibu menyambut kedatangannya pasca ujian Jounin beberapa jam yang lalu. Langkahnya yang terkesan tergesa-gesa tersebut mengusik kesunyian yang semula ia tangkap.
Ren tersenyum tipis mendapati meja makan yang tak lagi kosong. Timbul penyesalan menerima ajakan mantan gurunya untuk menemaninya makan siang di kedai ramen kalau tahu ibunya telah menyiapkan makanan kesukaannya di rumah. Pasti ibunya telah mendengar keberhasilannya dalam ujian terakhir menjadi Jounin. Mengambil duduk ia meletakkan tudung saji yang semula ia pegang. Menyamankan diri untuk menikmati sajian yang dibuatkan sang ibu.
"Enak," ungkapnya kemudian.
.
.
.
Dua insan yang terpisahkan oleh keadaan akhirnya berjumpa kembali. Saling meluapkan kerinduan barang sejenak dalam sebuah tatapan singkat kala bola mata beda warna tersebut bersinggungan. Beberapa detik sebelum salah satu mengalihkan pandangan cepat-cepat.
Ruangan tempat mereka berada terasa sunyi. Hanya tatapan mata nyalang yang terlontar dari beberapa penghuni di sana yang terarah pada laki-laki yang terduduk dalam kursi pengadilannya. Dialah Uchiha Sasuke. Sang Uchiha terakhir tersebut bukan kembali ke desanya dengan sukarela, namun kukuhan dari rantai penghisap cakra tersebut cukup menguatkan keadaannya.
Senju Tsunade tak tahu harus mengambil keputusan apa ketika kenyataan ia telah menangkap missing nin tersebut. Memijat pelipisnya kembali ketika bola mata madunya menangkap raut tak mengenakan yang tersurat dalam setiap mimik tetua desa. Bahkan di sampingnya Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura tak mampu ambil suara ketika sebuah keputusan dengan paksa ia harus ambil.
Uchiha Sasuke. Lelaki itu dalam keadaan seperti apapun tak akan menghapuskan hukuman yang akan ia terima.
Mati atau mati.
Dua pilihan yang bermakna sama menghantui masa depan lelaki klan Uchiha tersebut.
.
.
.
Clek.
Haruno Ren terkesiap dalam lamunannya ketika suara decitan pintu tertangkap indra pendengarannya. Ia beranjak dari sofa yang ditempatinya, sekedar menyambut seseorang yang telah lama ia tunggu.
"Ibu dari mana?" Sebuah pertanyaan bermakna menuntut tersebut begitu saja lolos dari bibirnya.
Untuk kesekian kali Ren mendapati roman tak mengenakkan yang tercipta dari wajah ibunya sebelum tertoreh senyum penutup ke arahnya.
"Hokage-sama tadi menaggil Ibu." Haruno Sakura memeluk sejenak putranya yang semakin beranjak dewasa, "Dan selamat atas kelulusanmu menjadi Jounin, Ren, Ibu sangat bangga," tuturnya lagi.
Tersenyum tipis Ren memeluk Sakura, "Terima kasih, Ibu."
.
.
.
Setelah hari itu semua terasa berbeda. Raut wajah tak suka yang dulu tersamarkan kini menguak untuk terlontar ke arahnya. Bisik-bisik yang semula selalu ia abaikan entah mengapa kini menimbulkan sebersit raut penasaran untuknya.
Bukan. Bukan nada cacian yang terlontar ke arahnya yang ia permasalahkan. Hanya saja kedua pendengaran Ren terasa sensitif ketika sebuah nama familiar tak sengaja tercuri dengar olehnya.
Uchiha Sasuke. Ren tahu, nama itulah yang menjadi topik bisik-bisik rekan seangkatannya.
.
.
.
Petang itu Ren berdiri di sana. Menyandar pada tembok kokoh Rumah Sakit tempat ibunya berada. Menanti kemunculan sosok perempuan yang hampir 14 tahun begitu akrab dengan kehidupannya. Namun, ketika petang semakin menggelap sosok yang ia tunggu tak kunjuk menampakkan diri. Sekedar melepas rasa kekhawatirannya ia menengok lorong dimana ibunya sering muncul dengan senyum lebar setiap ia datang menjemput. Tak ada. Lorong itu terlihat kosong dalam jangkauan pandangannya.
"Ibu..."
"Ren." Tersentak kaget Ren menatap tak suka seseorang yang berani mengusiknya. Alis hitamnya menyernyit mendapati Uzumaki Naruto tengah memamerkan sebuah senyum kepadanya.
"Bisakah kita bicara sebentar, Ren," pinta untuknya.
Mengangguk sekilas ia menapaki langkah mengikuti Naruto.
.
.
"Ada apa, Sensei?" Akhirnya Ren ambil suara, pasalnya mantan gurunya tersebut tak kunjung mengucapkan kalimatnya.
Tersenyum lagi Naruto menangkup pundak remaja tanggung tersebut, "Malam ini. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk menyerahkan sebuah dokumen ke Sunagakure?" Mendapati raut tak mengenakan yang ditampilkan lawan bicaranya ia kembali bersua, "Sebenarnya aku ingin mengantarkan sendiri, namun nenek Tsunade malah memintaku mencari pengganti karena suatu urusan. Maukah kau membantuku, Ren?" Jemari Naruto menggenggam penuh harapan jemari bocah di depannya, " Kumohon, hanya kau yang kupercaya, Ren," pintanya memelas.
Dan sebuah anggukan lagi-lagi membuat senyum sang Uzumaki melebar.
.
.
.
.
Malam itu dengan sebuah pesan singkat kepada sang ibu yang dititipkan kepada Naruto, Ren pergi mengemban misinya. Sendiri, bayangan hitam tersebut meloncati atap-atap rumah penduduk menjangkau gerbang Konoha. Perjalanan Konoha-Suna akan memakan waktu tiga hari. Dan entah mengapa Ren ingin segera menyelesaikan misi ini. Perasaannya terasa tidak mengenakan. Mungkin karena ia pergi tanpa pamit dengan sang ibu, sangkalnya.
.
.
.
Hari telah beranjak sore ketika Ren berhenti sejenak di perbatasan Konoha-Suna. Membuka bungkusan makanan yang sudah ia siapkan, ia kembali mengisi tenaganya yang tersortir karena paksaan perjalanan yang tak kenal berhenti. Menyenderkan tubuh letihnya ia menatap hamparan pasir yang sebentar lagi akan ia lalui. Mata hitam miliknya terpejam sejenak karena semilir angin musim panas yang terasa segar menerpa tubuh berpeluhnya. Rasanya nyaman.
Sreeg
Sreggg
Insting waspada milik Ren langsung bangkit ketika suara langkah beberapa orang ia rasakan keberadaannya. Mata hitamnya berubah merah. Sharingan kebanggaan Uchiha yang mengalir pada darahnya ia tampakkan. Menelusup dalam rimbunan semak mata awasnya meneliti gerak-gerik beberapa orang yang ia yakini bandit daerah perbatasan.
"Kau tak tahu berita yang marak terdengar, Kidou?" Laki-laki berbadan tambun tersebut berkata antusias pada dua orang kawannya.
"Kalau bukan tentang uang aku tak peduli, Kuro," ungkap sesorang di antara dua bertubuh kurus tersebut.
Laki-laki bertubuh tambun tersebut terkekeh pelan, "Tapi ini tentang orang dari klan terakhir pemilik mata Sharingan hebat itu, Kidou," tandasnya lagi.
Mata Sharingan milik Haruno Ren menegang ketika kemampuan mata miliknya menjadi topik yang tengah diperbincangkan para bandit tersebut.
"Maksudmu Uchiha Sasuke yang kemungkinan akan dijatuhi hukuman mati oleh Kono..."
Belum sempat kalimat tersebut selesai terucap gumpulan asap tersebut muncul, hingga akhirnya menghilang tersapu angin menghilangkan sosok pemuda tanggung bermarga Haruno tersebut.
.
.
.
"Sial. Jadi mereka mengusirku sementara karena ini," geram Ren. Dipacunya langkah itu menembus gelapnya hutan yang telah ia terjang.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke. Lelaki yang eksis karena penghianatannya kepada Konoha dengan mengikuti Orochimaru dan bergabung dengan Akatsuki tersebut mendekam dalam selnya yang pengap dan gelap. Terpejam dalam tidurnya ia merasakan sebuah cakra familiar yang berlari ke tempatnya sekarang. Merasa tak ada gunanya, ia tak mau ambil pusing. Menyamankan posisi tidurnya, ia kembali menaungi kenangan indah di masa lalunya.
Haruno Sakura. Meskipun hampir 10 tahun tak bertemu, perempuan yang dulu begitu istimewa di hatinya tersebut tak banyak berubah. Di usia mereka yang lebih dari seperempat abad, perempuan Haruno tersebut masih saja mengusik hatinya yang berusaha ia tutup rapat-rapat. Baginya kenangan tersebut semakin ia ingat akan menjadi cambuk untuknya.
Cleekk
Sasuke tak ambil pusing ketika pintu sel tempatnya berada terbuka. Yang ia tahu hukumannya akan terlaksana besok. Mati. Sasuke muak dengan tindakan terakhirnya menyangkut desa ini. Seberapa usahanya untuk membantu Konoha di waktu perang, seperti tak ada gunanya. Di mata mereka kejahatannyalah yang harus segera diadili. Memusnahkannya. Kalau ia ingat pertemuang siang tadi, ia terasa semakin muak.
"Uchiha Sasuke."
Panggilan tersebut mengalun mengganggu pendengarannya. Ia bergeming dalam posisi tidurnya, enggan mengindahkan sosok lain dalam sel pengap tersebut.
"Kita harus cepat keluar dari desa ini, Uchiha Sasuke," ucap orang tersebut.
Uchiha Sasuke tertawa getir mendengarnya. Beranjak bangun ia memamerkan Sharingan yang melagenda tersebut. Mangekyou Sharingan. Untuk sesaat pemuda di depannya terkejut dalam diamnya.
"Ayah..."
.
.
.
Tepat pukul setengah empat pagi cakra yang begitu ia kenali samar terasa olehnya. Ia bangun dari tidurnya yang tak pernah merasa nyaman. Menghapus jejak air mata yang tak pernah mengering di sudut matanya ia melangkah keluar kamar. Sekedar untuk memastikan kalau cakra yang samar tersebut berasal dari putranya. Ren.
.
.
Duduk diam di meja makan ketika ia dapati keberadaan putranya. Ragu ia mendekat ke arah Ren. Sakura merasakan cakra milik putranya yang selalu tenang tersebut terasa menahan suatu amarah. Air mata tersebut lagi-lagi tak mampu ia bendung ketika mengetahui sebab karenanya. Ren telah tahu apa yang telah terjadi.
"Ren..." Bibir pucat miliknya bergetar menahan isak tangis yang berusaha ia redam.
"Ibu... Ibuu tahu ini akan sulit..." Sakura tak mampu meneruskan kalimatnya ketika tiga tomoe milik putranya berputar cepat. Dalam sekejab pandangannya mengabur, meskipun samar ia mendapati raut akan penyesalan tercurah dari putranya.
"Maafkan anakmu ini yang begitu egois, Ibu."

Link Story: Egois chapter 1