Senin, 26 Agustus 2013

Siapa Dia?

Link story: Siapa Dia?
 
Disclaimer: Masashi Kishimoto

Sequel dari fic 'Harapan?' versi saya. Sebelum membaca ini bisa terlebih dahulu baca fic 'Harapan?' meskipun kalau nggak baca juga pasti nyambung kok :D


Siapa Dia?

Mereka mendesaknya. Membuatnya untuk segera angkat bicara. Mengatakan siapa dia. Namun ia tak mau bicara, dan kenapa mereka terus menyiksanya dengan semua itu. Tahukah mereka bahwa ia masih dalam keadaan duka kehilangan dia.
 
"Siapa dia?" Lagi-lagi ia dituntut bicara. Kemarin orang tuanya, teman-temannya, dan sekarang sang Hokage ikut ambil bagian menuntutnya bicara.

Ia masih bungkam. Menatap tajam dua sosok manusia di depannya; sang Hokage dan Sensei-nya.

"Katakan siapa dia, Sakura?" Hatake Kakashi angkat bicara. Ia menghampirinya dengan wajah sedih.

Namun bocah perempuan 13 tahun itu bungkam. Masih senang mengantupkan dua bibirnya.
Sang Hokage menggeram kesal. Dengan kasar ia menegak sake di depannya, menyebabkan sebagian sake itu meluber melewati sudut bibirnya sebelum terhapus sembarang dengan lengan bajunya.

"Katakan sekarang atau kau akan menyesal selamanya, Haruno Sakura!" Hokage itu kini kehilangan kesabarannya. Menggebrak meja sebelum menuding sosok di samping Hatake Kakashi.

"Katakan siapa pemuda brengsek yang tengah menghamilimu, Sakura." Hokage itu berseru menatap tajam ke arahnya.

Ia mengelus perutnya yang masih rata sebelum menatap ke arah sang Hokage yang tengah dikuasai amarah. Bukan ia takut, hanya saja ia penasaran dengan sesuatu berwarna kuning yang terus bergerak di cendela belakang Hokage Konoha itu.

"Katakan siapa pemuda itu atau aku sendiri yang akan me-"

"Naruto..." Ia bergumam lirih namun tak ayal kedua orang itu mendengarkannya juga.

Hokage dan Kakashi membeku. Terlalu kaget dengan berita yang baru saja mereka dengar.
.

.

Dan Sakura...

Ia terus menyernyit berusaha mengenali apa yang tengah terlihat di cendela belakang sang Hokage. Sakura merasa itu Uzumaki Naruto. Terlihat dari rambut jabriknya yang jelas-jelas terlihat meskipun wajahnya terhalang tembok. Sedang apa bocah bodoh itu, pikirnya.

Haruno Sakura tak menyadari perubahan ekspresi yang ditampilkan oleh dua orang di hadapannya.

"UZUMAKI NARUTOOOOO..." Sang Hokage berseru lantang penuh amarah.

"Eh?"

Poor Sakura. Kamu tidak tahu satu kata yang keluar dari bibirmu telah menjadi kesalahpahaman besar.
.

.

Sasuke?

Rasanya jikalau bocah Uchiha itu tahu, pastinya ia ingin segera pulang ke Konoha untuk memanggang Naruto hidup-hidup karena mengaku sebagai ayah calon bayinya. Well, siapa sih yang mau merelakan anaknya diakui oleh bocah bodoh seperti Uzumaki Naruto. Tentu saja sebagai Uchiha ia tak rela dengan hal itu.

Harapan?

Link story: Harapan?

Mereka bilang...
Jangan memberikan mahkotamu kepada siapapun yang bukan suamimu
Karena berarti, saat itu kamu sudah siap disakiti

Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Harapan?


Kamu menatapnya, sedangkan ia menatapmu juga. Tersenyum kamu padanya sembari menautkan jemarimu pada jemarinynya. Kamu merasa berdebar meskipun kalian pernah lebih dekat dari sekedar behadapan seperti ini. Namun, apapun yang kamu lakukan dengannya selalu membuatmu tidak berhenti tersenyum berhari-hari. Karena kamu tahu bahwa kamu sangat mencintai pemuda di depanmu ini lebih dari siapapun. Bahkan kamu beranggapan tidak akan pernah menyesal memberikan mahkotamu padanya, pada pemuda Uchiha yang sejak dulu menawan hatimu.

Kamu menariknya memasuki kamarmu kala malam itu. Menutup cendela yang menjadi tempatnya datang. Keremangan malam yang telah datang tidak membuatmu berniat menghidupkan lentera penerang dalam kamarmu. Kamu ingin tetap seperti ini, merasakan kebahagian kala ia mendekapmu lagi sepeti malam sebelumnya, sebelum kalian beranjak menaiki tempat tidurmu. Bergemul sebagai tanda kamu dan dia saling mencintai.

"Sasuke-kun..." Kamu membenamkan wajahmu pada dada bidangnya. Menahan kenikmatan untuk tak berseru lebih keras. Tentu saja kamu takut orang tuamu tahu apa yang telah dilakukan putri satu-satunya dengan membawa rekan satu timnya yang bergender laki-laki ke dalam kamarnya.

"Saku-ra..." Selalu tersenyum bahagia setiap gerakan yang ia ciptakan meskipun samar namamu terucap dari bibirnya yang tak mau lepas dari bibirmu. Kamu mendekapnya erat, menikmati gelombang ujung dari kegiatan kalian yang tengah mendatangimu hebat. Ia balas memelukmu juga, ketika kamu merasakan penuhnya tubuh bawahmu. Rasanya begitu hangat, sehangat tubuhnya yang erat memeluknya. Membawamu masuk ke dalam alam tidur yang ingin kamu raih.
.

.

.

Rasanya kosong ketika kamu bangun pagi itu. Tidak mendapati lagi alunan napas dari pangeran hatimu. Hanya hembusan angin pagi yang kamu rasakan kini. Seberkas perasaan kecewa tentu kamu rasakan, namun kamu segera menghilangkannya. Karena kamu tahu, kamu akan tetap berada di hati pemuda Uchiha itu.

.

Kalian bersikap biasa ketika berkumpul bersama tim 7 untuk mengikuti ujian Chuunin yang sebentar lagi dilaksanakan. Kamu tetap bersikap manis dan selalu ingin menarik perhatiannya, dan ia tetap tak menanggapi tingkah konyolmu padanya. Semua sama seperti dulu, tidak ada yang berbeda kecuali keadaan di mana kalian hanya berdua. Kamu tahu Sasuke tidak akan suka mengumbar-umbar hubungan kalian dan kamu juga belum siap mereka tahu apa saja yang telah kamu perbuat dengan salah satu dari rekan setimmu.

Biarlah semua sama seperti dulu. Yang penting kamu tahu perasaanmu tak lagi bertepuk sebelah tangan. Dan itu pasti sudah membuat beribu katak di perutmu bersenandung senang karenanya.
.

.

.

.

Kamu merasa ada yang berbeda dengannya. Bukan dengan kutukan yang ia dapat dari Orochimaru yang telah bersarang di tubuhnya. Namun kamu merasa mata itu berbeda, mata kelam yang selalu menampakkan kenyamanan itu semakin kelam kala kamu tatap.

Kamu bingung harus bagaimana ketika ia menarikmu ke sebuah gang sempit dalam perjalanan kalian pulang dari Ichiraku, menyudutkanmu ke tembok sebelum menghadiahkanmu sebuah ciuman yang entah kenapa terasa nenyesakkan untukmu. Lagi-lagi kamu menatapnya penuh khawatir, dan kamu tahu ia tidak akan suka kamu bersikap seperti itu. Ia ingin kamu tetap tersenyum untuknya, menyemangati kala ia terpuruk.

"Sasuke-kun..." Tidak tahu mengapa kamu ingin menelusuri wajahnya dengan jemarimu, merasakan betapa indahnya makhluk ciptaan Tuhan di depanmu ini.

Ia memejamkan mata ketika merasakan setiap sentuhanmu. Kedua tangannya pun semakin menarikmu mendekat ke arahnya.

"Kamu kenapa, Sasuke-kun?" Ia menatapmu kosong, "Apakah kutukan ini menyiksamu?" Sebelum jemarimu menyentuh tanda kutukan pada lehernya, tangan Sasuke telah lebih dulu menahan tanganmu. Menarikmu dalam pelukannya.

"Kumohon, Sakura, tetaplah mencintaiku apapun yang terjadi," bisiknya lirih.

Dan ingatanmu kembali pada kejadian di hutan Kematian, kala pemuda yang kamu cintai tidak mampu mengendalikan kesadarannya. Dan itu semua karena kutukan dalam tubuhnya.

Entak kenapa kamu terisak karenanya, memeluknya erat seakan takut kejadian itu kembali terjadi. Melihat ia kesakitan tanpa kamu bisa meredakan kesakitannya.

Ia mencium air matamu.

" Aku akan selalu mencintai Sasuke-kun apapun yang terjadi. Aku janji."

Lain dengan malam sebelumnya. Malam itu kamu habiskan memeluknya erat sembari menahan tangismu yang enggan berhenti, sebelum kalian pulang ke rumah masing-masing.

Namun kamu tidak sadar Sakura, malam itulah kamu akan kehilangan sosok yang kamu cintai.
.

.

.


Mereka bilang...
Jangan memberikan mahkotamu kepada siapapun yang bukan suamimu
Karena berarti, saat itu kamu sudah siap disakiti

Sekarang kamu tahu maksud ucapan ibumu dulu. Apakah kini kamu menyesal telah kehilangan milikmu, Sakura?

Pemuda yang sangat kamu cintai kini telah meninggalkanmu seorang diri. Kamu tidak tahu lagi di mana ia berada.

Ingatan tentang malam yang dulu selalu kamu lalui bersamanya, kini seakan menjadi cambuk yang siap untuk semakin membuatmu tersiksa.

Namun ucapan malam terakhir kalian bertemu seakan menjadi sugesti bahwa kamu harus tetap mencintainya. Menunggunya pulang kembali ke pelukanmu. Seperti janjimu dulu padanya, bahwa kamu tetap akan selalu mencintainya apapun terjadi.

.

Apakah sekarang semua asumsi yang sekuat tenaga kamu pertahankan tidak akan luluh ketika ia tanpa perasaan ingin menancapkan pedangnya padamu, ia berniat membunuhmu.

"Sasuke-kun..."

Kamu bimbang. Tahu bahwa Sasuke yang selalu kamu cintai telah berubah. Ia tidak akan lagi memelukmu, mencium bibirmu lama, maupun menenangkanmu kala kamu sedih.

Yang ada sekarang hanyalah Uchiha Sasuke yang penuh dengan dendam.

Uchiha Sasuke yang tidak akan segan untuk membunuhmu. Dan masihkah kau tetap mempertahankan janjimu padanya.

Namun kenyataannya, meskipun kamu berusaha melupakan segala tentang pemuda Uchiha itu. Rasa kerinduanmu padanya tidak bisa kamu elak lagi.

Dan kamu tidak akan menyesal menyerahkan milik berhargamu padanya. Semua harapan bahwa ia juga tidak mungkin melupakan kenangan kalian bersama dulu.

Mungkin nanti, rasa tanggung jawab kepadamu membuatnya berpikir untuk datang kembali kepadamu. Dan sebelum saat itu tiba, kamu akan menyimpan dalam-dalam hatimu untuknya kelak.

The end

Peri Hatiku

Disclaimer © Masashi Kishimoto


Peri Hatiku

Dia tetap di sana, memandang kilauan senja yang terlukis pada permukaan danau yang dangkal. Sorot matanya kosong tanpa tujuan, bahkan ketika terpaan angin yang membawa anak rambutnya terlihat menutupi pandangannya tak lagi diindahkannya. Wajahnya ayu dengan berbingkai mahkota sewarna bunga sakura. Kulit tubuhnya putih bersih mesti terlihat dari jauh, dia terlihat sempurna sebagai seorang wanita. Hanya satu yang membuat dia berbeda.

Sayap sewarna kapas bertengger indah pada kedua pundaknya.

Sayap yang membedakan dengan manusia pada umumnya.

Dan kau tetap terdiam di tempatmu berdiri. Memandang sosok peri cantik pujaanmu dari balik pohon oak di tepi danau yang lain. Tanpa berkedip kau memandangnya, meneliti setiap air muka yang nampak pada wajah ayunya.

Hanya satu warna yang tak pernah kau dapat dari setiap ekspresi yang dia tampilkan,

.

―senyuman yang begitu ingin kau lihat darinya.

.

.

Dua minggu kau menjadi seorang pengecut dengan tetap memandang diam-diam ke arahnya. Setiap sore menjelang senja dia muncul, dan menghilang bersamaan dengan kembalinya sang penerang alam ke dalam peraduan.

Sering pula kau meruntuki betapa pengecutnya dirimu―yang hanya mampu memandangi sosok jelitanya dari balik pohon―tanpa berani melangkah mendatangi sosoknya yang terlihat rapuh dalam cahayanya yang tak pernah redup. Dialah yang membuatmu terasa antusias menyambut datangnya esok. Berharap kau punya keberanian untuk menyapanya, menemani suasana sunyi yang tengah dia arungi.

Namun, kau tetap pengecut Uchiha Sasuke. Lebih pengecut dari yang selama ini kau sadari.


Gelisah kau bolak-balik menatap sosoknya dan matahari yang semakin memudar warnanya. Inilah yang kau takutkan selama ini, melihat dia menghilang dalam gelapnya malam dan kau menatap sendu tempat duduknya yang dia tinggalkan.

Dia masih di sana, dan kau kembali mengunci pandanganmu pada sosoknya.

Sepuluh.

Bibirmu bergerak, memulai kembali rutinitas menghitung mundur beberapa lama lagi kau bisa menatap peri hatimu hari ini.
.

Sembilan
.

Delapan
.

Tujuh
.

Enam
.

.Empat
.

Kau memejamkan matamu, seakan takut rasa kosong dalam hatimu kembali menggelayuti ketika sosoknya menghilang.
.

Tiga
.

Dua
.

Bersamaan angka terakhir terucap dari bibirmu kau membuka mata.
.

Satu

.

.

Kau hancur dalam diam, menatap sendu ke arah sosoknya yang masih tertangkap sorotan bola mata onyxmu.

Seharusnya kau senang dia masih di sana, tapi nyatanya rasa sakit dan kecewa itu melandamu ketika peri hatimu menerima uluran tangan pemuda lain sebelum sosoknya memudar hilang.
Inilah yang kau takutkan, bukan takut kau tak bisa memandangnya tapi takut seseorang telah memiliki hatinya.

"Sial," makimu dalam hati.


Hari menjelang senja ketika kau bergegas mengemasi perlengkapan ekstrakulikulermu. Menjejalkan kaos sepak bolamu asal tanpa henti mengerling gelisah jam dinding yang terus berdetik.

"Loh, Sasuke, kau sudah mau pulang?"

Seseorang mengalihkan perhatianmu, melirik sekilas sebelum melangkah keluar dari ruang olah raga.

"Aku pergi," pamitmu.
.

.

.

.

Bukan langkah biasa yang tercipta dari kedua kakimu, berlari dan berlari. Mencoba mengejar waktu yang tak mau berkompromi denganmu.

Kau berhenti, kedua tanganmu bertumpuan pada kedua lututmu. Napasmu berat dan tersenggal-senggal. Namun niatmu bertemu dengannya meruntuhkan segala letih yang tengah kau dera. Melangkah, berlari, dan berlari. Berharap matahari senja tak menghilang sebelum kau mengisi memorimu hari ini dengan wajah ayunya.

Hap.

Satu lombatan pagar setinggi pinggang sukses kau lewati, kini seperti seekor pemangsa kau mengendap-ngendap. Berusaha mencari sosoknya yang meremang diterpa sang senja.

Kau diam, tapi sorot matamu melirik ke semua tempat yang selalu jadi tujuannya. Kegelisahan kembali melandamu kala onyxmu tak mendapati seberkas cahaya putih yang kerap muncul dari tubuhnya ketika senja mulai menghilang.

Dia tak datang.


Seminggu ini harimu terasa hampa. Tak ada gejolak aneh dalam hatimu yang selalu kau rasa. Dia telah menghilang, dan kau merindukannya. Sangat.

Termenung, hanya itulah yanng bisa kau lakukan. Mengulas kembali setiap memori tentangnya yang tersimpan rapat dalam memori otakmu. Kau beranjak dengan malas ketika bel apartemenmu terdengar, menyingkap selimut tebal yang membunngkus tubuhmu. Menapaki kaki menghampiri pintu utama di apartemenmu. Dengan tak niat handel itu kau putar, membuka lebih lebar agar kau tahu siapa yang mengganggu hari-hari hampamu.

Kau diam. Menatap sosok yang begitu kau hafal. Tetap seperti seminggu yang lalu menggilang tanpa kabar, dan sekarang dia berdiri di depanmu. Senyum dengan air mata itu membaur jadi satu ketika peri hatimu menghambur dalam pelukanmu.

Dan kau tahu, kau pernah merasakan saat-saat seperti ini. Saat dimana ia berada dalam pelukanmu.
Semua itu terasa familiarkan, Sasuke.


Pernah dipublis di fanfiction.net dengan link: Peri Hatiku

Selasa, 21 Mei 2013

Couple? No! (cerpen series 3)


Couple? No!

Hari Senin. Entah kenapa gue selalu bermasalah sama satu hari di dalam seminggu yang sering gue jumpai. Cerita aslinya simple, tapi emang dasarnya gue aja yang bikin masalah. Terutama masalah sama ibu gue yang mendadak jadi sok ngatur. Sudah gue blok kata yang bikin gue mendadak terbang terus jatuh di selokan depan rumah gue. Ngenes. Dan semua itu ujung-ujungnya nggak ada yang mau ngalah demi gue. Eliana Hendrawan. Satu-satu cewek paling cute di keluarga Hendrawan terpaksa merelakan kewarasannya untuk ibunda tercinta. Memalukaaaaaan!

Cerita ini gue awali pada tanggal 20 Mei 2013 dimana tepat jatuh pada hari Senin. Hari Kebangkitan Nasional. Simbol kebangkitan bangsa Indonesia yang berbalik membuat gue terhempas kejurang kegalauan nggak berdasar. Asli ngeneeeessss.....

Pada hari itu gue sebagai anak SMA yang berbudi baik tentunya harus mematuhi segala peraturan dan perintah dari sekolah, termasuk memakai baju batik untuk memperingati hari Kebangkitan. Di sinilah awal ketidak selarasan pikiran gue dengan nyokab gue yang mendadak sok ngatur. Sarimbitan.

You know? Gue harus memakai baju batik yang sama dengan yang dipakai kakak gue Satria. Ini memalukan. Sangat memalukan. Gue ini mau sekolah bukan menghadiri acara keluarga. Serasa gue badut yang terdampar di tengah-tengah lautan manusia, yang siap menertawakan lo. Ini gila.

“Kenapa dari tadi diem?” Gue buang muka sehabis lihat Satria ngelirik tingkah polah gue di spion motor yang kita naiki. Seharusnya dia tahu kalau gue ini bete bake BGT.

“Bukannya cewek suka make baju couple, ya?” Lagi-lagi Satria ambil suara meskipun tahu gue cuekin. Nggak sampai hati mengingat adegan reka ulang dimana nyokab maksa gue make baju sama dengan Satria. Kata beliau sih lucu lihat anaknya pake baju sama, tapi bagi gue ini memalukan. Apalagi untuk sekolah. Kalau bokab gue nggak ngelirik tajam gue yang ngedumel terus-terusan, gue pasti nggak semudah itu takluk.

“Iya, kalau couple-an sama pacar, nah, ini sama lo beda,” kata gue sinis. Rasanya gue emang kejam pada saudara sendiri. Ya Tuhan maafkanlah hambamu yang kebanyakan hormon ini.
“Heiiii.....” Gue menjerit nggak terima ketika Satria mendadak berhenti. “Kalau

“Lampu merah,” kata Satria saat tahu gue pengen marah nggak terima. Jelas saja kalau kepala gue yang untungnya memakai helm berlebel SNI terantuk belakang kepalanya yang juga memakai helm. Berwarna sama juga. Putih. Ngeneeesss...... nyokab gue memang nggak ketulungan buat beliin barang yang sama. Katanya biar nggak rebutan. Padahal asli gue nggak pernah rebutan, yang ada Satria yang ngalah sama gue. Seperinya gue lagi-lagi merasa kejam.

Merasa nggak ada lagi yang gue masalahin, sebelum lampu merah berganti warna gue mundur ke belakang, merasa duduk gue semakin melorot ke Satria. Akhir-akhir ini entah kenapa gue merasa absurd sama kalimat Satria yang kemarin gue anggap cuma bahan bercandaan. Tapi berkat anime Shoujo yang sering gue tonton, gue merasa aneh, nggak nyaman. Seharusnya gue nggak mikir sejauh itu, tapi... banyak sesuatu-sesuatu yang ngeganjel di hati gue.

Dan satu lagi. Seharusnya tadi, gue berangkat sekolah bareng sohib gue si Huda, bukan Satria. Ketika lo baru nyadar saat lampu merah lo mendadak jadi bahan lihatan orang-orang yang berhenti. Bagaikan lo alien yang terdampar di dunia, yang tengah di pungut pangeran Tampan semacam Satria. Oh no, Elianaa bilang Satria tampan. Dunia sudah gila. Maksudnya dunia gue—Eliana Hendrawan memang gila. Nggak ada yang beres. Please, Tolongin gue!

Selasa, 14 Mei 2013

With My Friend





Lokasi: Pelang, Trenggalek, Jatim.
Status: Melancong :)

Jumat, 19 Oktober 2012

I Love You (cerpen series 2)

I love You


Tegoklah dari celah cendelamu maka kamu akan menemui sesosok pangeran yang bertenger eloknya di atas sana. Di temani ribuan permaisuri nan cantik jelita yang siap kapan saja untuk merobohkan kokohannya. Dari sudut yang tak pernah tersorot oleh lentera manapun kini kamu duduk termenung memikirkannya, sesosok pujaan hati yang tak pernah mengangapmu meskipun kamu selalu di sampingnya.



Well, sepertinya kata-kata gue di atas puitis BGT kan? Pasti dong. Siapa dulu yang bikin. Hahaha.... Gua juga tahu loe pada pasti mual baca karangan gue, tapi mau gimana lagi, gue juga sebenarnya malas bikin kata-kata yang nggak bermutu. Berhubung ini kalimat ada tapinya jadi perlu gue jelasin kenapa gue yang cantik jelita nan imut ini dengan jerih payah dan tetesan keringat merangkai kata demi kata. Gini ceritanya... flashback dulu ni yeee....

Pagi yang cerah itu gue bangun seperti biasanya, males dan tak pernah bersemangat. Lho tau, hari itu hari senin, dan tahukan hari senin pagi itu kegiatannya ngapain di sekolah. Dan inilah yang gue benci, demi MENUNJUKKAN semangat nasionalisme maka Upacaralah yang setiap hari senin rutin dilakukan di sekolah gue. Gue tahu tiap sekolah juga gitu, tapi tetap aja gue benci harus dijemur hampir satu jam di tengah terik panas matahari, berdiri tanpa boleh duduk dengerin ceramah yang nggak gue tahu isinya apa. Dan kalau bukan karena tiap Upacara ada anggota Osis yang siap sedia absen siapa saja yang nggak ikut Upacara, dijamin gue nggak akan pernah mau ikut Upacara itu.

“Eliana Hendrawan,” panggil seorang cewek kelas 2 yang gue ketahui sebagai anggota Osis—tentu aja gue tahu karena itu cewek pake jas khusus Osis.

“Eliana di sini,” jawab gue sembari ngacungin tangan.

Terlihat itu cewek nyatet di daftar absen yang dia pegang. Gue sih diem aja, masang tampang sok cool favorit gue—melipat kedua tangan di dada sambil senderan di tiang net voli. Merasa diawasi mata gue mencari kesana kemari, dan loe tahu cewek yang anggota Osis itu natap gue seperti nggak pernah lihat sebelumnya—padahal emang nggak pernah lihat sih.

“Ada apa ngelihatin mulu, Kak?” tegur gue.

Cewek itu ngelihatin gue dari ujung rambut sampai ujung kaki, “Loe beneran adiknya, Satria?” tanyanya.

Gue ngangguk aja, lah emang bener gue ini adiknya.

“Tapi kok nggak ada miripnya sih.” Gue melotot nggak suka. “Loe jelek tapi Satria cakep.”

WHAAAAAATTTTTTTTTT...........................???????????????????

Inilah salah satu penyebab gue BENCI namanya Upacara.

.

.

Dan gue tahu cerita di atas nggak ada hubungannya kenapa sampai gue bikin kalimat sok puitis itu. Sebenarnya sih ini kejadian memalukan buat di ceritain. Lho tahu Pak Rudi, guru Bahasa Indonesia yang gayanya sok lebay gitu. Sssstttt... denger-denger beliau itu dulunya bencong lho, tapi tenang sekaran beliau sudah insaf jadi guru. Dan yang bikin gue sebel gosip punya gosip katanya gue suka sama Pak Rudi.

Diam dan jangan shock. Gue juga ngalamin hal itu pas pertama kali denger hal simpang siur nggak jelas yang pastinya nurunin pasaran gue. Ya, mau gimana lagi cewek tenar kaya gue memang banyak yang iri, so harap maklum aja.

Usut punya usut kata si Huda temen sekelas gue yang hobinya ngegosip, Pak Rudi jadi ngefly gitu pas denger gue suka sama beliau. Bayangkan ya, masa gue suka sama guru gue sendiri yang umurnya aja hampir 35 tahun—gue tahu beliau masih singel. Bayangkan juga, masa gue yang cantik jelita nan imut ini suka sama om-om. Mending kalau digosipin sama Jung Yong Hwa—pemain drama Korea yang jadi Kang Shin Woo—yang senyumnya bikin cewek klepek-klepek kaya ikan kekurangan air, pasti gue bakal bahagia dunia akhirat. Dan gue tahu gue emang lebay jadi berhenti masa tampang pengen nelen gue.

Gue capek sebenernya nulis hal nggak penting di atas, jadi gue sekarang mau nulis langsung ke inti buahnya. Pengiritan energi namanya, bukan pelit.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan lebih pas gue masuk ke kelas dan Pak Rudi sudah nangkring dengan elitnya di meja guru. Itu artinya gue memang terlambat masuk ke kelas. Dan gue nggak merasa kalau gue terlambat, guru itu aja yang kecepetan masuk kelas. Mangkanya dengan entengnya gue duduk di bangku gue, pojok deket jendela. Tangan gue yang capeknya nggak ketulungan gara-gara bawa surat cinta yang banyak kaya sampah di tempat pembuangan akhir. Untung kalau dititipin makanan yang bisa gue embat, nah ini cuma pada nitip surat cinta yang nggak perlu loe tanya bakal dikasih ke siapa. Capek gue jelasinnya.

“Eliana.”

Gue tahu gue dipanggil, tapi mau gimana lagi, ini surat cinta susahnya minta ampun pas gue masukin ke tas buat diboyong ke orang yang dituju.

“Eliana Hendrawan.”

Nah lho, gue dipanggil lagi.

“Wooooeee..... loe di suruh ke depan tu.” Si cecurut Huda nyikut gue supaya gue cepet-cepet berdiri. Dan dengan tak niat gue juga akhirnya berjalan layaknya tentara ke depan kelas, dan jangan lupa pamerin senyum menawan dong. Masa ke depan kelas pake wajah butek, nggak elit kali.

“Ada apa ya, Pak.” Pada dasarnya gue menghormati akan yang lebih tua maka jangan heran kalau gue bisa berubah jadi murid yang patuh dan sopan terhadap guru.

“Bapak tahu kamu sibuk jadi pengantar surat buat kakak kamu yang ganteng itu, tapi Bapak nggak suka kamu ngelalaikan tugasmu sebagai seorang murid.” Kayanya gue emang sudah terkenal jadi pengantar surat deh.

“Lho, Pak, emang apa hubungannya tugas sama pengantar surat?” Di sini ni otak lemot gue malas bekerja.

“Loe belum bikin tugas mengarang, sob.” Nah, ini baru suara si cecurut Huda yang ambil kendali.

Akhirnya gue manggut-manggut ngerti, “Maaf, Pak. Bukannya saya melalaikan tugas dari Bapak. Tapi beneran saya lupa. Suuuuueeeerrrrr dehhh...........” Peace mode on nggak lupa gue pamerin bersamaan dengan senyum paling menawan gue.

Pak Rudi manggut-manggut, “Sebagai gantinya bapak minta kamu bikin karangan,” kembali Pak Rudi besuara.

“Ok, Pak.” Gue tahu Pak Rudi memang paling baik. Berhubung gue merasa acara bicara sudah selesai gue langsung balik badan untuk kembali duduk di bangku gue sendiri. Kan capek lama-lama berdiri.

“Harus tentang pujaan hatimu, dan Bapak minta juga hasil tanggapan dari pujaan hatimu pas kamu beri dia hasil karanganmu. Bapak tunggu hasilnya minggu depan.”

Gue ralat kata-kata gue yang bilang Pak Rudi paling baik. Titik.

.

.

Waktu istirahat merupakan hal yang paling disukai anak sekolah, termasuk gue tentunya. Dengan berbekal uang sepuluh ribu di kantong, gue pesen bakso ekstra besar, tentunya minumnya pake dibayarin sama cecurut eh sorry maksud gue Si Huda—sohib gue dari jaman masih pake popok. Jangan berpikir yang bukan-bukan tentang gue sama si Huda. Asli nggak pake palsu ya, gue sama dia cuma temen nggak lebih. Ya meskipun dia suka nraktir gue bukan berarti gue ada lope-lope sama dia. Dan yang penting dia bukan tipe gue banget, dan lagi gue juga bukan tipe dia. Jadi semua aman.

Srrrrruuuuuuuuuuuttttt........

Satu gelas es jus rasa jeruk ludes gue sita dari Huda. Yang bersangkutan sih masa bodoh, maklum sudah biasa.

“Kenyangggg....” Beginilah nikmatnya hidup. Perut kenyang hanya berbekal uang sepuluh ribu. Indah bukan hidup ini.

Si Huda ngalihin mukanya dari hp yang dari tadi jadi bahan kesibukannya, “Loe entar mau ngasih karangan loe ke siapa, sob?”

“Entahlah.” Dia natap gue, “Mungkin ke loe aja kali,” sahut gue nyengir.

Huda langsung melotot tajem ke gue, “Sorry, sob, bukannya gue nggak mau ataupun nolak tapi loe kan nggak suka sama gue.”

Nah lho, kenapa pake pasang muka melas gitu, gue kan jadi nggak tega sama si cecurut sobat gue ini. “Habis gue nggak tahu mau dikasih ke siapa, sob,” ujar gue galau.

Dia pasang tampang ala detektif sebelum nyengir ke arah gue, “Gimana kalau loe kasih ke Kak Satria aja.”

JGGLEEERRRRR

Nggak ngebantu sama sekali.

.

.

.

Sebelumnya gue nggak pernah bikin karangan, seumur-umur baru kali ini gue bikin karangan yang isinya nggak banget deh. Tapi mau gimana lagi jiwa pujangga gue malam itu harus terpaksa gue keluarin, dan hasilnaya cukup bikin gue nyengir nggak jelas.

Hanya satu paragraf saja yang bisa gue keluarin, tapi lumayanlah daripada nggak sama sekali. Dengan berbekal kertas bernuansa pink dengan gambar hati terkena panah, gue salin itu karangan gue dalam selembar kertas itu. Surat cinta gue sudah siap sedia, sekarang lebih baik memikirkan siapa yang cocok buat menerima hasil jerih payah gue ini. Pokoknya, yang menerima harus yang spesial, masa yang pasaran. Kan nanggung bangetlah.


Cleeekk

Masa bodoh ketika pintu kamar gue dibuka. Gue sudah hapal siapa yang merusak waktu berpikir gue, siapa lagi kalau bukan kakak gue yang katanya ganteng—Satria Hendrawan.

Tanpa memikirkan bagaimana perasaan gue, Satria seenaknya mainain si white—lapie milik gue—tanpa ngucapin apa kek pada pemiliknya yaitu gue.

“Muka loe kenapa butek gitu?” Merasa ada yang merhatiin gue tentu saja gue merasa tersanjung. Langsung aja gue bangun dari acara tidur-tiduran dan langsung natap penuh perhatian pada sang tersangka.

“Gue bingung,” ungkap gue.

Satria nggak menoleh ke arah gue tapi tetep asik ngegame di lapie gue, tapi gue tahu dia merhatiin gue.

“Eh, tadi di sekolah gue dapet surat dari penggemar lho tu.” Gue nunjuk dimana tas gue teronggok tak elit di lantai kamar.

“Kenapa nggak loe buang aja kaya biasanya.” Gue melotot nggak suka.

“Nggak bisa gitu kali,” seru gue nggak terima. “Loe tahu bikin surat cinta itu nggak segampang mainin game tahu, butuh memilih kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan kita,” jelas gue berapi-api.

Dia akhirnya natap gue. Cuma natap biasa, nggak pake acara melotot kaya gue tadi. “Apa gara-gara dapat tugas dari Pak Rudi loe jadi tahu rasanya nulis karangan tentang perasaan loe.” Dia ambil suara, dan gue kembali meringkuk di tempat tidur.

“Mungkin bisa dibilang gitu,” ucap gue lirih. “Sat, loe pernah jatuh cinta nggak?” Meskipun nggak lihat gue tahu kalau Satria merhatiin gue. “Gimana sih rasanya jatuh cinta?? Ceritain ke gue dong,” pinta gue kemudian.

Taklama kemudian gue denger suara lapie gue dimatiin.

“Mungkin rasanya seperti yang loe tulis, apalagi orang yang gue suka nggak sadar kalau gue suka sama dia.”

“Ehhh....” Gue langsung bangkit buat natap Satria yang sdang megang kertas hasil karangan perasaan gue. Dan entah kenapa gue ngerasain perasaan sedih ketika gue natap sorot matanya. Rasanya gue kaya peramal aja ya.

“Gue bingung maksud loe, Sat?” Dia sekilas ngelirik gue sebelum kembali merhatiin hasil karangan gue.

“Bilang pada Pak Rudi ‘I Love You’, itukan jawaban yang beliau minta.”

Lemot. Lola. Gue nggak berhasil buat nangkep ucapan dari Satria. Bahkan ketika dia senyum ke gue sambil ngacak rambut gue, gue tetep masang tampang blo’on.

“Suatu saat nanti loe akan ngerti maksud gue. Dan berhubung sudah malem, lebih baik loe tidur.” Dia beranjak dari hadapan gue.

Sebelum tubuhnya hilang dari balik pintu, gue masih denger ucapan selamat malem dari Satria.

 “Masa sih Satria itu incest*.”

Hanya itulah yang gue pikirin. Dan malam itu alhasil gue nggak bisa tidur gara-gara pikiran bodoh gue.

                                                                  Tamat

Pacaran? (cerpen series 1)


Pacaran?

Malam ini gue kesepian. Beselimut kegalauan nggak berpengujung tentang masa depan. Ini kisah gue tentang cinta yang nggak kunjung menghampiri hati gue. Sepi. Mungkin.

Berulang kali gue yakini kalau gue nggak perlu menjalin romansa dalam ikatan pacaran dengan seorang cowok. Cukup pernah sekali saja tersakiti, gue nggak mau mencoba main-main tentang hati.

Ini tentang kisah gue--Eliana Hendrawan--yang mengenyam indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Seorang senpai kala masih duduk di jenjang Sekolah Dasar. Cowok pertama kali yang sampai bikin gue memendam cinta sampai bertahun-tahun. Dari bocah ingusan sampai menjelma menjadi sosok gadis yang cantik dan imut. Hahahahaha

Cinta pertama yang indah tentu saja. Meskipun jengkel tapi hati gue seneng banget ketika dia ngejaili gue. Simpel, namun bikin cinta gue ke dia semakin menyebalkan. Dan maaf yang kena tag XD

Sejak kelas 3 SD sampai akhir masa SMP cinta gue aman terpendam jauh di lubuk hati terdalam. Namun sial, tepat kelulusan gue dari SMP bibir ini nggak sengaja menyebut namanya.

Irwan.

Sohib kakak gue Satria waktu sekolah Dasar.

Waktu itu Satria nggak berkomentar apa pun. Dia hanya tersenyum sambil ninggalin gue sendiri.

Lega. Cinta yang semula tersimpan rapat itu akhirnya terbuka. Gue merasa kosong. Beban yang semakin memberat itu terangkat seketika.

Namun, sebuah cerita cinta memang nggak seindah cerita dongeng.

Irwan. Senpai yang gue cinta ternyata bukan sosok yang pantas buat gue.

Hampir 6 tahun memendam cinta padanya, rasanya memang berwarna-warni seperti permen gula-gula.

Dan terakhir cinta gue harus rela gue lepas seluruhnya. Tanpa terkecuali.

Nggak ada rasa deg-degan yang selalu nemenin gue pas nggak sengaja berpapasan sama dia. Nggak ada lagi roman salah tingkah ketika kakak sepupu gue nggak sengaja ngajak ketemuan sama dia.

Sekarang semuanya lepas nggak tersisa. Nggak ada tangis penyesalan.

Sosok yang selalu gue anggap sempurna itu tercoreng seketika.

Meskipun gue sakit hati karenanya, tapi gue akan rela hati mundur untuk kakak sepupu gue yang terpaksa menikah dengan dia. Hamil.

Gue nggak nangis kok.

Eliana, gadis yang tabah.

Bagi gue, itu adalah suatu tanda kalau dia memang bukan orang yang terbaik yang Tuhan persiapkan untuk gue.

Gue rela.

.

"Lo ngelamun?"

Gue tersentak kaget ketika toyoran bantal mampir di wajah cantik gue.

Menyebalkan. Gue melotot nggak terima acara mengenang gue terhambat.

Sosok itu acuh meskipun udah gue tampilin muka angker andalan gue.

Nggak mempan. Gue tahu itu.

"Kenapa sih lo selalu gangguin malam tenang gue, Sat?" Lagi-lagi gue mendelik plus cemberut bersamaan. Itung-itung olah raga wajah.

"..."

Merasa dicueki gue beringsut ke sudut sisi sofa yang gue duduki. Sedikit merenungi betapa kesepian itu rasanya menyiksa juga.

"Sat, malam minggu nggak ngapelin pacar lo, ni?" Merasa sepi gue angkat suara.

Kakak gue angkat bahu. Terlalu asik menikmati acara ngegame-nya yang nggak kunjung selesai.

"Gue jomblo."

Nggik.

Gue ketawa ngakak pada akhirnya. Helooo.... Gue tahu lo bohong kakak gue sayang. Terus siapa yang setiap hari smsin sayang-sayang di hape lo.

"Sesama jomblo harus saling menghormati."

Sial.

Reflek gue hantam dia pake guling yang sedari tadi di dekat gue. Dan sekarang gue puas. Haha

Satria balik melotot ke arah gue. Kesal mungkin gara-gara game yang sejak magrib tadi ia selesaikan kini 'game over'.

Gue ketawa. Dan menyebalkannya dia malah ngampiri gue dengan tampang setengah kesal sampil ngegelitik perut gue.

Kuso. Tawa gue terdengar semakin menyedihkan.

"Mamaaaaaaaaa...." teriak gue pada akhirnya.

.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika kedua orang tua gue pamit ke rumah kakek nenek. Sebenarnya awalnya mereka ngajakin gue, tapi nggak tahu kenapa gue tolak ketika tahu Satria nggak ikut ke sana. Entah kenapa gue lebih suka habisin malam minggu sepi ini nemenin kakak gue tersayang ini.

"Sat, pacar lo siapa sih?"

Lagi-lagi gue membuka pembicaraan. Bosan juga hanya ditemani suara televisi.

"Kaga ada."

"Aih, jangan bohong deh. Masa sama adik sendiri pelit amat," cibir gue.

Tanpa ngalihin titik fokus dari televisi Satria ngacak rambut gue gemas, "Gue nggak suka pacaran, Elin," jawabnya.

"Kenapa?" Gue masang tampan blo'on ke arah dia.

"Nggak papa. Gue nggak suka aja."

"Nggak suka 'kan juga ada alasannya, kakakku tersayang."

Aish, pelit cerita.

"Lo 'kan banyak yang naksir, Sat, beda sama gue." Entah kenapa gue buka kartu pada akhirnya.

Gue denger Satria mendesah napas dalam sebelum natap ke arah gue.

"Lo, pengen pacaran?"

Gue diam. Bingung harus jawab apa.

"Nggak tahu," jawab gue akhirnya.

Lagi. Satria ngacak rambut gue.

"Lo, tahu nggak alasan gue kenapa nggak mau macarin salah satu cewek yang naksir gue?"

Geleng-geleng kepala sebagai jawaban gue.

Satria tersenyum ke arah gue, "Gue nggak mau ngambil sesuatu yang bukan hak gue. Dan lagi gue nggak mau merasa bersalah ketika nanti gue nikah, gue nggak bisa nyerahin semua yang gue miliki secara utuh pada istri gue nanti."

Gue masang tampang blo'on pada akhirnya.

"Ketika kita pacaran, kita nggak bisa terus-terusan untuk nggak berbuat hal yang nggak diperbolehkan agama. Meskipun idealis untuk tetap menjaga pasangan kita agar tetap utuh sebelum pernikahan itu tiba telah kita koarkan, tapi seiring waktu dan kebersamaan yang semakin lengket pasti idealis itu akan tergoyah."

"..."

"Apalagi gue ini cowok. Pengen mencoba hal-hal baru."

"Tapi 'kan meskipun pacar kita sekarang bukan suami kita nanti, toh nggak bakal ada yang tahu apa yang telah kita lakukan sama pacar kita sebelumnya," sangkal gue.

"Tuhan selalu tahu, Elin. Dan pasti lo akan merasa bersalah meskipun hanya sebersit nggak bisa menjaga diri untuk suami lo nanti."

Gue angguk-angguk kepala mengerti. "Kata guru agama gue 'wanita yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik, begitupun sebaliknya."

"Adik gue pinter."

"Emang. Hahaha...."

.

"Mangkanya sebelum hal buruk terjadi sama lo, lo harus bisa jaga diri baik-baik supaya nggak merasa bersalah nanti ketika nikah sama gue."

Nikah?

Sama Satria.

Satria Hendrawan, kakak gue.

Ngeblang.

Melotot.

"Lo..." Gue nunjuk was-was ke arah dia, "... dan gue?" Beralih gue nunjuk ke arah sendiri.

Satria mengangguk dengan senyum miringnya.

"Lo dan gue nikah? Nanti?" gagap gue.

Dia mengangguk.

"Mamaaaaaaaaaa.......... Satria incest!!!!!" seru gue shock.

"Mama nggak ada di rumah, sayang."

Gue gelagapan. Merinding.

"Papaaaaaaaa............. Satria gilaaaaaaaaa......... Tolooooooooooooonggggg........"

"Lo nggak ingat papa mama sekarang nggak ada di rumah."

Gue membatu. Membeku dalam sebuah kulkas bersuhu minus.

Dan Satria menyeringai ke arah gue.

Diem. Membeku. Dan pingsan.

Tamat